Halaman

Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Maret 2020

Khadijah Adalah Rumah Kita


Khadijah Adalah Rumah Kita

Setiap wanita menyimpan rumahnya dalam hati mereka
Baik ketika hidup di tenda kecil yang dibangun di padang pasir atau di gunung-gunung maupun gedung-gedung dan istana
Di rumah atau di belakang dusun
Tersesat atau tak ada harapan
Pendatang atau pengembara
Tawanan atau terantai
Kepala yang bermahkota atau kaki yang terbelenggu
Tiada bedanya
Setiap ruang wanita penuh dengan kesunyian
Kekuatan dahsyat untuk membangun ruangan itu akan terus menyelimuti sekitarnya bahkan sampai mereka mati dan tulang-tulang menjadi tanah
Karena wanita adalah bumi
Wanita adalah dunia
Kehidupan bukan hanya tempat melahirkan, tapi juga tempat mereka dikubur. Mereka berhati lembut layaknya serbuk bunga atau orang yang melakukan kebaikan dengan rendah hati, seperti tangan yang tekun atau lembut selembut bulu burung
Kekuatan wanita seperti kekuatan gaib yang menopang dunia
Semua hal ini tak tertulis di buku legenda
Hidup ditemani dengan air, sabun, dan tungku, bukan dengan pedang. Pengetahuan tentang kehidupan rumah tangganya layaknya detak-detak jantung
Detak-detak jantung itu tidak mudah didengar dari luar… tapi detik-detik kecil itu adalah sumber kehidupan.
Yang mendendangkan dengan runtutan simfoni dan semesta yang harmonis, sebuah rutinitas yang tidak akan bisa dibedakan dengan aliran air
Selincah-lincahnya kucing bergerak adalah wanita
Para wanita selalu bergerak, selalu bergerak maju tanpa beralih arah di setiap napasnya. Seperti suara, seperti napas, di setiap udara yang dihirup dan di setiap waktu yang terlewati, di setiap langkah mereka membawa rumah mereka.
Setiap suara yang keluar, mereka membangun dan menatanya
Setiap suara yang terdengar, mereka membangun dan menatanya
Tanpa merasa bosan, mereka membangun rumah secepa kecepatan suara
Rumah para wanita dibangun di atas suara-suara
Kita bisa berpikir mereka tak memiliki rumah jika dilihat dari luar
Padahal, wanita adalah rumah pertama ketika anak laki-laki lahir
Rumah yang mereka tuju pula ketika akan kembali
Mereka tahu bahwa tempat itu bersembunyi di dalam hati para wanita
Wanita adalah rumah
Tempat bernaung
Aktif, memiliki visi, dan kreatif adalah kemampuan yang dimiliki para wanita dalam membangun rumah tangganya
Untuk orang-orang yang memahami, ini semua seperti sebuah ruh
Seperti ingatan, kenangan, dan acuan
Ketika kita lebih berhati-hati dalam melihat, semua yang berada di alam semesta ini saling melengkapi dengan kasih sayang dan gairah
Saling tarik di lingkaran besar, dan pada saat itu kita akan melihat betapa pentingnya sumber kehidupan yang diungkapkan dengan kata ‘nisa’
Wanita adalah simfoni megah
Setiap wanita mempunyai kunci rahasia mengenai rumahnya
Setiap waita memiliki pengetahuan tentang rumah yang luas
Begitulah takdirnya
Wanita adalah bagian dari batin kebenaran.
Wanita, seseorang yang setiap kata-katanya tak terbahas, dilupakan, dan hilang identitasnya
Kita semua bergantung pada dunia, pada hidup, yang bertumpukan cerita hidup, dongeng-dongeng para wanita
Kehidupan diturunkan ke dunia dengan dititipkan kekasih-Nya kepada Khadijah terus mengalir dari bumi ke langit
Khadijah adalah istri Nabi Muhammad, ibu yang mengandung anak-anaknya, rumah untuk dirinya.
Atap Khadijah terbuka menghadap langit. Itu sebabnya huruf Kha menghadap ke langit.
Tempat terjadinya Mikraj
Tempat berkumpulnya semua rahasia
Kasih sayang Khadijah adalah dunia yang diberikan kepada kekasih-Nya.
Oleh karena itu, dia adalah ‘Kubra’
Khadijah yang pertama dan terakhir.
Kasih sayang Khadijah adalah kerajaan Rasulullah
(Salawat dan Salam untuknya)
Khadijah adalah ibu untuk rumah para umat Nabi Muhammad yang penuh berkah
(Salawat dan Salam untuknya)


Khadijah: Ketika Rahasia Mim Tersingkap - A Novel by Sibel Eraslan

Rabu, 16 November 2016

Hidup Itu Sendiri Adalah Bukti, Bukan untuk Dibuktikan Lagi

“Man, akan kukatakan sebuah rahasia mumpung aku masih sempat mengatakannya!”
Hardiman mendengarkan.
Mboh Pah pun melanjutkan, “Kami, kaum ibu, dalam hubungannya dengan anak, diciptakan secara berbeda dibandingkan dengan kaum ayah. Kami memiliki sesuatu yang tidak dimiliki kaummu. Sesuatu itu ada dalam hati kami. Hati kami memberikan kekuatan kepada kami untuk bisa mandiri dalam mengasuh dan merawat anak-anak kami. Coba kau renungkan. Dulu, semasa perjuangan membela tanah air, kaum laki-laki banyak turun ke medan laga, berperang melawan penjajah. Para istri ditinggal dengan hati yang pilu sembari hatinya selalu menjeritkan do’a agar suaminya selamat di medan tempur dan kembali ke rumah mereka.  Di antara suami itu, memang ada yang pulang kembali. Tetapi, banyak pula yang gugur. Demi bangsa dan negara. Apa pernah kau pikir, bagaimana perasaan istri ketika suaminya tak pulang dari medan laga, sedangkan anak-anaknya selalu bertanya tentang ayahnya? Ketahuilah, Man. Kenyataan menjadi seorang ibu yang bisa membesarkan anak-anaknya sendiri tanpa suami di sisinya adalah kenyataan sejarah. Sejarah bangsa sendiri. Sejarah kami, kaum ibu! Apakah sejarah memaksanya?  Tidak, Man! Bahkan, merekalah yang memaksa sejarah hingga tunduk kepada mereka. Karena itu, Man. Menjadi orang tua tunggal bila orang tua itu adalah seorang ibu lebih niscaya dilakukan dibanding seorang ayah. Engkau, Man, pada akhirnya tetap membutuhkan seorang istri. Dan, kedua anakmu membutuhkan seorang ibu. Tetapi bila yang meninggal itu adalah engkau, istrimu tak membutuhkan seorang suami lagi. Istrimu bisa memerankan diri sebaik-baiknya sebagai ayahnya. Itulah, Le, rahasia yang harus kau ketahui, kau camkan baik-baik.”
Dan, ternyata, apa yang dikatakan Mbok Pah itu memancing perbincangan yang hangat di pagi setelah subuh itu. Sembari Mbok Pah menyalakan tungku dapurnya, si mungil Imran terlelap di keranjang tidurnya, sedangkan Pras mengayun-ayunkan keranjang tidur adiknya yang terbuat dari kayu, Mbok Pah terus berbicara. Membuat Hardiman diam sembari berpikir keras.
“Jangan berpikir bahwa seorang istri tak bisa bekerja seperti suaminya. Kau salah bila berpikir seperti itu, Man. Kalau istri tak bisa bekerja, bagaimana ia akan menghidupi anak-anak yang ditinggal mati ayahnya di medan laga itu? Kau benar, kekuatan seorang istri tak sebanding dengan seorang suami. Tetapi, untuk apa kekuatan itu? Untuk bekerjakah? Untuk mengumpulkan uang banyakkah? Oh, Man, anak-anak tak membutuhkan uang yang banyak. Mereka membutuhkan uang yang cukup. Hidup sederhana. Dan Allah meletakkan kemampuan pada diri seorang ibu untuk melakukan hal seperti itu. Orang berkata bahwa akal seorang separuh dari akal laki-laki. Mungkin itu benar. Tetapi, mungkin juga tak benar. Tetapi, mengasuh dan merawat anak tak semata-mata persoalan akal, Man. Bahkan, lebih dari itu, seseorang memerlukan hati yang diberkahi cinta kasih dan ketulusan untuk bisa mengasuh dan merawat anak dengan sebaik-baiknya. Hati yang seperti itu hanya dimiliki seorang ibu, yang kaummu menyebutnya sebagai makhluk ‘separuh akal’ itu. Dengan akal, seorang ayah memang bisa membuat anaknya cerdas, pintar, dan mendapatkan ranking di sekolah. Tetapi, dengan hati, seorang ibu bisa mendekatkan anak-anaknya kepada Tuhan yang Maha Cinta dan Maha Kasih.”
“Karena itu, Man,” Mbok Pah melanjutkan, “tanggung jawabmu sekarang berat. Ke depannya, lebih berat lagi. Keputusan itu ada di tanganmu sendiri, apakah kau akan menikah lagi atau tidak. Mbokmu ini hanya bisa berkata-kata seperti itu. Kuharap, kau sudi mempertimbangkannya.”
Seakan tak punya kemampuan untuk membantah, Hardiman hanya diam saja. Ada bagian-bagian pada perkataan Mbok Pah yang tidak ia setujui sebenarnya. Ia ingin mengatakan ketidaksetujuannya. Tetapi, apa? Di mana?
“Kita buktikan saja, Mbok.” Akhirnya, Hardiman hanya bisa berkata seperti itu.
“Buktikan apa?”
“Bahwa saya mampu, Mbok.”
“Kau ingin membuktikan kepada siapa? Apakah persoalan ini soal bukti-membukti, Man?”
Hardiman diam lagi.
“Buka begitu, Le,” Mbok Pah berkata lagi. “Untuk apa bukti, padahal ini soal hidup? Hidup itu sendiri adalah bukti, bukan untuk dibuktikan lagi. Apa kau berpikir bahwa kau ingin membuktikan mampu mengasuh dan merawat kedua anakmu tanpa kehadiran istri lagi di sampingmu, lalu kau katakan bahwa kau adalah laki-laki terhebat di dunia ini, Man? Oh, jangan berpikir seperti itu. Aku tak berkata bahwa kau tak akan mampu, Man. Aku hanya mengatakan bahwa tanggung jawabmu lebih berat dibanding-misalnya-kau tiada sedang istrimu masih ada. Aku hanya mengatakan, seorang istri tak terlalu membutuhkan suami lagi, sekaligus sosok seorang ayah bagi anak-anaknya. Berbeda dengan kau. Kau lebih membutuhkan kehadiran istri lagi, dan anak-anakmu membutuhkan sosok ibu. Itu saja, Man.”
“Aku sayang Kas, Mbok. Mengertilah. Aku terlalu mencintainya kini. Walaupun cintaku tak bisa dilihat dan dirasakannya lagi.”
“Iya, iya. Aku tahu.”
“Ketika masih hidup, aku telah menyia-nyiakan cintanya, Mbok. Pahamilah. Aku tak ingin menyia-nyiakan cintanya lagi, walau ia sudah tak mendampingiku.”
Kali ini, Mbok Pah yang terdiam.
Pras masih mengayun-ayunkan keranjang tidur adiknya.
Di luar sana, matahari semakin menyembul dari balik pepohonan.


Kutipan dari sebuah novel “Kerling si Janda” karya Taufiqurrahman al-Azizy.