Halaman

Sabtu, 23 Maret 2024

Ramadhan dalam Nuansa Keragaman

 

Ramadhan dalam Nuansa Keragaman

Abbas Langaji

Dosen Institut Agama Islam Negeri Palopo

 

Salah satu ungkapan tahniah yang cukup populer setiap memasuki bulan Ramadhan adalah Marhaban ya Ramadhan, yang dianggap sebagai terjemahan dari ucapan Selamat Datang Ramadhan.

Walaupun ungkapan tahniah tersebut masih dipermasalahkan segelintir orang, terutama dasar skriptualnya, ucapan itu memenuhi layar gadget melalui platform Whatsapp, Telegram, Facebook, Instagram, dan lain-lain.

Ucapan “selamat datang Ramadhan” mengesankan Ramadhan adalah “tamu”, padahal Ramadhan adalah bagian dari waktu, tak berwujud, tak bergerak, tapi berlalu secara siklus.

Bahkan dalam pemikiran filsafat Al-Razi 251 H (865 M)-313 H/925 M, waktu itu kekal! Satuan hitungan waktu mulai detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, windu, dasa warsa, abad, hingga millennium, dan seterusnya (bila masih ada), adalah satuan hitungan.

Ramadhan bukan tamu, yang mendatangi umat manusia (baca: umat Islam), melainkan satuan hitungan waktu yang dalam interval waktu 29 atau 30 hari tersebut terdapat sejumlah keberkahan yang tiada terhingga. Dengan demikian, maka ungkapan Marhaban ya Ramadhan sejatinya ekspresi kebahagiaan kita begitu segera memasuki zona Ramadhan, zona waktu yang penuh rahmat dan maghfirah tersebut.

Ramadhan di tahun Qamariyah

Ibadah mahdha dalam Islam, misalnya puasa dan haji, ditetapkan berdasarkan sistem penanggalan yang mengacu pada sistem Qamariyah (lunar system), yang bila dibandingkan dengan sistem Syamsiyah (sonar) akan berselisih 10-11 hari tiap tahun.

Bila memperhatikan bahwa iklim dan musim berlangsung berdasarkan sistem sonar, setidaknya menghadirkan hikmah luar biasa bagi umat Islam, khususnya di Indonesia.

Bila ibadah puasa untuk pertama kalinya ditetapkan pada bulan Ramadhan yang saat itu sedang musim panas, dan arena musim mengikuti sistem penanggalan matahari, bulan Ramadhan setiap tahun maju 10-11 hari. Akibatnya, setiap siklus 33-34 tahun sekali Ramadhan akan jatuh pada bulan yang sama.

Oleh karena itu, tercatat dalam sejarah, akan terjadi dua kali Idul Fitri di tahun yang sama, misalnya tahun 2000, ketika 1 Syawal 1420 jatuh pada tanggal 8 Januari, dan 1 Syawal 1421 jatuh pada 27 Desember.

Bila suatu ketika Ramadhan berlangsung dalam musim kemarau, dalam 16-17 tahun berikutnya Ramadhan akan berlangsung dalam suasana musim hujan, dan sebaliknya. Selain itu, suasana berpuasa pun akan berlangsung dalam suasana Ramadhan yang berbarengan dengan musim buah-buahan yang berbeda sepanjang siklus 33-34 tahun itu.

Dalam konteks Islam Indonesia, suasana Ramadhan semakin menarik karena umat Islam berkesempatan menjalankan ibadah puasa dan merayakan Idul Fitri dalam suasana yang beragam. Suatu ketika, Ramadhan berdekatan waktu dengan perayaan hari besar agama lain yang umumnya ditetapkan berdasarkan penanggalan Syamsiyah (sonar system).

Ramadhan 1445 Hijriah di tahun 2024 ini “didahului” oleh perayaan hari Nyepi bagi umat Hindu. Pada pekan ketiga Ramadhan, aka nada dua hari raya umat Kristiani, yaitu Wafatnya Yesus Kristus dan Paskah.

Bila kita melihat ke belakang, pernah suatu ketika hari raya Idul Fitri berada di antara perayaan Natal (25 Desember) dan tahun baru (1 Januari), misalnya pada tahun 2000, ketika 1 Syawal jatuh pada 27 Desember. Demikian pula Maulid Nabi Muhammad SAW, pada tahun 2015 dan 1982, dilaksanakan dua kali, demikian pula tahun 1982 dan setiap siklus 33 tahun ke belakang dan ke depan.

Tahun 2015 itu pula menjadi semakin menarik karena peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW jatuh pada 24 Desember, berselisih satu hari dengan Natal, kelahiran Yesus Kristus, yang dalam penanggalan Qamariyah yang lain bisa saja bertepatan jatuhnya di 25 Desember itu.

Ramadhan dan moderasi beragama

Indonesia struktur penduduknya terdiri dari beragam agama, etnis, suku, golongan, dan budaya. Bahkan di dalam tiap-tiap agama pun ada beragam mazhab dan aliran.

Praktik beragama dengan mengedepankan perilaku moderat tanpa mengabaikan prinsip ajaran agama yang dianutnya adalah suatu keniscayaan agar terpelihara semangat toleransi dan merawat harmoni antar dan antara umat beragama.

Spirit moderasi beragama yang perlu ditanamkan setiap Ramadhan adalah saling menghormati, menghargai, dan memuliakan antar yang beribadah puasa dan yang tidak dengan cara demonstratif makan-minum di hadapan orang yang sedang berpuasa, sebagai wujud perilaku moderat. Begitu pula sebaliknya yang berpuasa agar tidak mudah tersinggung, apa lagi marah, melihat di sekitarnya terdapat orang sedang makan dan minum.

Sikap moderat ini akan saling menguatkan satu sama lain dalam rangka peningkatan penghayatan dan pengamalan ajaran agama. Umat Islam, sebagai umat yang moderat, dalam melaksanakan ibadah puasa yang tampak pada ketentuan pelaksanaan ibadah seperti tidak ada unsur paksaan, tetapi menyesuaikan dengan kemampuan setiap hamba-Nya. Demikian pula setiap Muslim wajib menghargai saudaranya sesama Muslim yang sedang berpuasa.

Dalam konteks intra umat beragama, sikap moderat dalam beragama ini tak menggugat ajaran agama dengan menambah dan atau mengurangi, tetapi saling memahami dalam perbedaan dan keragaman di ruang publik, saling menghormati dan menghargai jika ada perbedaan dengan tetap mengacu pada prinsip dan kaidah ilmiah.

Dengan demikian, tidak boleh atas nama moderasi beragama, setiap orang boleh berbicara dan berpendapat tanpa mengikuti kaidah-kaidah agama, apalagi bila didukung oleh pengetahuan tentang agama yang memadai. Dengan begitu, umat Islam Indonesia akan secara nyata mempraktikkan sikap moderasi beragama dan sekaligus kontributor utama penguatan moderasi moderasi beragama di Indonesia.

Siklus Ramadhan yang merupakan sunnatullah itu bagi umat Islam dan bangsa Indonesia buka lagi sekadar ujian tentang arti penting moderasi beragama dalam suatu tatanan masyarakat yang kompleks dan heterogen, melainkan mengulang sejarah kesuksesan umat Islam dan bangsa Indonesia tentang keberhasilan merawat harmoni dalam keberagaman.

Bukankah sejarah sudah menunjukkan betapa rakyat Indonesia sudah terbiasa hidup dan berada dalam suasana keragaman dalam harmoni? Demikian pula Ramadhan dalam suasana berdekatan dengan perayaan atau peringatan hari besar agama lain mengharuskan setiap Muslim yang berpuasa untuk menghargai penganut agama yang berbeda.

 

KOMPAS, SABTU, 23 MARET 2024

Minggu, 18 Februari 2024

Bersih Tanpa Mencemari

 

Tri Suhartini

Bersih Tanpa Mencemari

Tri Suhartini (51) membuktikan, sarana kebersihan diri, seperti sabun dan sampo, bisa diproduksi tanpa bahan kimia pabrikan dan pembungkus yang bisa mencemari lingkungan. Atas idealism dan karyanya itu, ia diganjar penghargaan internasional.

Dahono Fitrianto

 

Alumnus Jurusan Kimia Universitas Diponegoro, Semarang, itu, awalnya bekerja menerapkan ilmunya di sejumlah perusahaan kimia multinasional di seputaran Jakarta. Dia, antara lain, membuat lapisan ceramic coating.

Namun pada 2017, seseorang yang sudah ia anggap sebagai orangtuanya menyuruhnya berhenti dan pulang ke kampung halamannya di Magelang. “Orangtua saya sudah lama meninggal, jadi saya anggap sesepuh ini sebagai orangtua sendiri. Beliau berkata kepada saya, ‘ngapain di sana, nyugihke Londo (memperkaya orang asing). Pulang saja. Kamu harus menjadi lebih berguna bagi lebih banyak orang’,” tutur Tri, saat ditemui di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (1/2/2024).

Saran orangtua itu benar-benar dia turuti. Awalnya dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia pun masuk dunia pesantren dan mengajari para santrinya berbagai keterampilan hidup, seperti bercocok tanam.

“Dari ngajari para santri itu lama-lama jadi tahu ada bahan-bahan di sekitar kita yang bisa dibuat sarana kebersihan diri, seperti sabun dan sampo. Sampo, misalnya, dibuat dari lerak (Sapindus rarak), buah-buahan kecil yang memiliki kandungan saponin tinggi,” ujarnya.

Ia juga memanfaatkan berbagai bahan yang ada di sekitarnya, seperti minyak kelapa, cem-ceman (rendaman) daun urang-aring, daun mangkokan (Polyscias scutellaria), pandan, rosemary, sereh, dan citronella.

Lama-lama kegiatan itu dikembangkan menjadi industri skala kecil. Pada 2018, Tri mendirikan perusahaan kecil bernama Ecovivo Daya Lestari untuk memayungi produksi sampo dan sabun dengan kearifan lokalnya. Namun, ia masih gelisah karena produknya masih menyisakan sampah yang bisa mencemari lingkungan.

“Seperti sampo cair, misalnya, masih butuh kemasan botol yang lagi-lagi bahannya dari plastik. Sampah kemasan ini tetap bisa mencemari lingkungan,” kenang Tri.

Tanpa sampah

Ia lalu memutar otak dan keluar dengan ide membuat sampo bentuk padat. Tri juga mencari bahan pembungkus yang tidak terbuat dari plastik atau bahan yang sulit diurai oleh alam lainnya.

Ia menemukan daun pisang yang sudah dikeringkan (klaras) sebagai pembungkus dalam dan lapisan batang gedebok pisang yang dikeringkan sebagai pembungkus luar. Ada juga anyaman pandan yang dipakai untuk bungkus luar ini.

“Intinya bungkus yang punya porositas dan bisa nahan kelembaban, dan tidak mencemari lingkungan karena bisa diuraikan oleh tanah,” katanya.

Tri semaksimal mungkin memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar tempat tinggalnya untuk melibatkan para petani dan perajin lokal guna menanam dan memproduksi bahan maupun bungkusnya sehingga terjadi gelombang ekonomi sirkuler.

Tahun 2018, ia masih membuat semuanya sendiri. Setahun kemudian, dia sudah melibatkan tenaga kerja dari luar. Saat ini, Tri mempekerjakan dua tenaga tetap untuk memproduksi produk-produknya. Namun, di belakang mereka, ada para petani yang membuat minyak kelapa, menanam kecombrang, citronella, dan sebagainya. “Saat ini ada setidaknya tujuh petani yang saya libatkan dan tiga ibu-ibu tetangga untuk membuat kemasannya,” papar Tri.

Usahanya berkembang pesat pada 2019, sampai dia memiliki situs sendiri untuk memasarkan produk-produknya. Di luar itu, ia bekerja sama dengan peritel produk kerajinan organik di Yogyakarta. Berbagai pameran pun ia ikuti sehingga produk-produknya mulai dikenal baik di dalam maupun luar negeri. “Konsumen di Yogyakarta juga kebanyakan turis asing,” ujarnya.

Produknya pun berkembang, tak hanya sabun dan sampo, tetapi juga teh herbal dan limbah teh herbal yang ia buat menjadi bahan isian rokok tanpa tembakau. Sisa-sisa bahan herbal untuk teh, seperti tulang-tulang daun sereh, citronella, mint, kecombrang, dan residu ekoenzim ia kumpulkan untuk kemudian dilinting dengan kertas rokok menjadi rokok tanpa nikotin.

Pada 2021, produknya untuk pertama kali dikirim ke luar negeri. Sampo batangan dan teh herbal sempat dikirim ke Singapura atas dukungan Asia Business Trade Association. Tahun berikutnya, produknya kembali dikirim ke Singapura dan Belgia dalam program yang disponsori Bank Indonesia.

Nilai berkelanjutan

Menurut Tri, pasar produknya menurun setelah pandemi. “Pasar offline (luring) dibanjiri produk-produk dengan harga lebih murah. Sementara untuk jualan online (daring) harus pasang iklan daring pula,” jelasnya.

Saat ini dia masih memproduksi 300 batang sabun dan sampo dan 100 bungkus teh herbal tiap bulan. untuk rokok herbal, baru dia mulai tahun lalu dengan jumlah sekitar 20 persen dari produk teh herbalnya.

Mei 2023, produknya yang dinilai kompetitif secara ekonomi, memiliki nilai-nilai berkelanjutan, dan memiliki pengaruh sosial maupun iklim terpilih mendapat penghargaan Good Design Indonesia dari Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan.

Pada Agustus 2023, Ecovivo meraih penghargaan Good Design Award International untuk kategori sanitari yang diselenggarakan Japan Institute of Design Promotion di Jepang. Ia terpilih di antara 5.000 peserta dari 25 negara. Tri mengakui, penghargaan ini membuka jaringan relasi dan peluang baru untuk kian memperkenalkan dan memperluas distribusi produknya.

Namu, Tri tak berambisi membuat produk-produknya sebagai produk massal. Hingga hari ini, dia masih menggunakan modal sendiri untuk berproduksi dan mengaku masih takut mengambil kreit dari bank. “Saya tak akan menyaingi Unilever dan P&G. saya ingin bertumbuh tidak berdasar kapasitas produksi yang tinggi. Yang penting membuka pasar dan menyiapkan komunitas untuk memproduksi saat demand pasar meningkat,” ungkapnya.

Tri justru berniat agar bisnisnya suatu saat memiliki semacam pesantren ekologi, di mana dia bisa berbagi keterampilan, kearifan lokal, dan ekonomi sirkuler. “Ini tujuan ke depan. Sebuah pesantren yang inklusif. Kapasitas produksi harus berkembang bersama berkembangnya lingkaran masyarakat yang bergerak di ekonomi sirkuler dari pesantren ekologi ini,” tandasnya.

 

Sosok

KOMPAS, SABTU, 17 FEBRUARI 2024

Minggu, 11 Februari 2024

Ciri Manusia Modern adalah Rebahan, Bukan Olahraga

 

Ciri Manusia Modern adalah Rebahan, Bukan Olahraga

Tiba-tiba malas olahraga? Itu wajar karena otak lebih kuat mengajak kita untuk bersantai, berbaring saja.

Luki Aulia

 

Sudah menggebu-gebu, dengan semangat ’45, niat olahraga bisa tiba-tiba batal. Sebab, orang seperti mendengar bisikan dari dalam kepalanya, seperti “mending tidur”, “santai-santai di rumah sajalah”, atau “langit mendung, pasti akan hujan”. Ternyata itu wajar dan memang sifat alamiah manusia.

Dalam laporan pada akhir Januari 2024, majalah Time menulis bahwa manusia modern lebih cenderung bersantai-santai dibandingkan bergerak. Bentuk istirahatnya bisa duduk atau sekalian rebahan.

Salah satu penelitian Universitas Ottawa, Kanada, pada 2018, membuktikan orang yang tadinya semangat olahraga bisa mendadak merasa malas. Sebab, otak manusia membuat orang tidak ingin berolahraga.

Periset di universitas itu, Matthieu Boisgontier, mengatakan, terlihat bukti-bukti orang lebih cenderung memilih bersantai daripada susah payah bergerak. Salah satu buktinya, orang lebih suka menggunakan tangga berjalan dibandingkan tangga biasa.

Naluri alamiah manusia ini pada dasarnya tidak buruk. Masalahnya, kehidupan modern memberi kita begitu banyak alasan atau peluang untuk menyerah pada pilihan istirahat dan ini sudah di tingkat tidak baik bagi kesehatan. Jam kerja panjang, badan yang jarang bergerak, ditambah infrastruktur yang membuat orang lebih memilih naik mobil, memperburuk kualitas kesehatan.

Pakar psikologi olahraga di Universitas Leeds Beckett, Inggris, Jackie Hargreaves, menambahkan, banyak orang juga tidak sadar menyimpan perasaan negatif terhadap olahraga sejak masa kanak-kanak. Terkadang, hal ini juga terkait dengan urusan kepercayaan diri. Penelitian menunjukkan, orang-orang yang menganggap diri mereka sebagai “orang yang berolahraga” dengan lebih kompeten cenderung melakukan rutinitas rutin.

Evolusi

Bergerak awalnya adalah soal bertahan hidup. Dulu, manusia harus berburu atau menanam. Semua membutuhkan gerak fisik. Manusia berevolusi untuk menoleransi aktivitas tingkat tinggi, tetapi cenderung beristirahat jika memungkinkan.

Ahli biologi evolusi manusia dan penulis buku Exercised: Why Something We Never Evolved to Do Is Healhty and Rewarding, Daniel Lieberman, mengatakan, istirahat iu untuk menghemat energi.

Manusia di era meramu, mau tidak mau, harus bergerak. Hal itu bukan untuk olahraga, melainkan hidup. “Manusia dulu tidak berlari sekadar untuk bakar kalori. Dari sudut pandang evolusi, tindakan itu bodoh dan membuang-buang energi untuk sesuatu yang tidak memberi manfaat apa pun. Sekarang kita tidak lagi banyak bergerak. Namun, naluri revolusioner untuk menghemat energi itu tetap ada. Pikiran seperti saya malas dan tidak ingin olahraga itu hal normal dan wajar,” tuturnya.

Sebaliknya, berbagai penelitian lain juga menunjukkan bergerak itu bermanfaat bagi aspek kesehatan. Bisa meningkatkan kualitas tidur, kesejahteraan mental, mengurangi risiko kondisi kronis, dan kematian dini.

Terlebih lagi, penelitian menunjukkan olahraga berdampak positif meskipun dilakukan dalam waktu yang sangat singkat. Meski begitu, tetap saja banyak orang kurang berolahraga.

Menurut hasil studi terbaru Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS, kurang dari sepertiga orang dewasa melakukan gerakan aerobik intensitas sedang (seperti jalan cepat) selama 20 menit setiap hari, ditambah dengan melatih otot dan sesi penguatan (seperti latihan ketahanan) setiap minggu. Waktu 20 menit itu merupakan intensitas aktivitas fisik yang direkomendasikan Pemerintah AS.

Orang dewasa yang sehat direkomendasikan meluangkan waktu 150 menit per minggu atau kira-kira 20 menit sehari untuk latihan aerobik intensitas sedang. Selain itu, direkomendasikan juga setidaknya dua hari per pekan untuk angkat beban atau aktivitas lain untuk menguatkan otot.

Menurut penelitian Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, hanya 28 persen warga AS yang benar-benar mengikuti anjuran itu. Kesimpulan itu didasarkan jawaban 300.000 responden Survei Wawancara Kesehatan Nasional 2020.

Lebih mengejutkan lagi, orang desa malah lebih cenderung jarang berolahraga. Hanya 16 persen orang di luar kota memenuhi standar aktivitas aerobik dan penguatan otot.

Para peneliti merekomendasikan agar dilakukan peningkatan fasilitas olahraga dan ruang fisik di perkotaan dan pedesaan. Tujuannya, menarik orang untuk beraktivitas.

Kesehatan jantung

Demi kesehatan jantung, setiap gerakan tubuh sangat berarti. Risiko penyakit jantung paling rendah terlihat pada orang yang paling banyak berolahraga. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penyakit kardiovaskular adalah penyebab kematian nomor satu di dunia dan membunuh hampir 18 juta orang per tahun secara global.

Guru Besar Universitas Oxford, Inggris, Aiden Doherty menemukan, 25 persen orang teratas yang melakukan aktivitas dengan intensitas tinggi memiliki rata-rata penurunan risiko penyakit jantung hingga 63 persen. Bagi yang melakukan intensitas sedang, risiko penyakit jantungnya berkurang hingga 57 persen.

Hal itu didasarkan risetnya pada 90.000 orang dalam periode lima tahun. “Temuan ini membantah mitos bahwa ada batasan Anda tidak boleh melakukan olahraga lebih banyak, tidak ada batasan aktivitas apa yang harus dilakukan untuk menyehatkan jantung,” kata Rema Ramakrishnan, ahli biostatistik dan epidemiologi di Universitas Oxford yang ikut penelitian itu.

Doherty mengatakan, hasil penelitian ini mendukung rekomendasi WHO bahwa orang harus melakukan setidaknya 150-300 menit latihan aerobik sedang hingga berat dalam seminggu. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PLOS Medicine ini menggunakan alat pelacak aktivitas yang dikenakan di pergelangan tangan atau akselerometer untuk mencatat aktivitas 90.000 partisipan secara akurat. Hasil yang diperoleh serupa pada laki-laki dan perempuan meski manfaat olahraga berat tampaknya sangat kuat pada perempuan.

Agar tetap semangat olahraga dan membangkitkan motivasi olahraga, psikolog olahraga di West Virginia University, Sam Zizi, menyarankan memulai dari yang mudah. Seseorang harus merasa nyaman dengan kemampuan dirinya terlebih dahulu kemudian menemukan motivasi berolahraga.

Dia merekomendasikan mulai dari berjalan kaki selama beberapa menit per hari. Mengamati teman sebaya melakukan apa yang ingin Anda lakukan, terutama jika mereka memiliki usia, jenis kelamin, atau status kesehatan yang sama, dapat membantu menyadari bahwa Anda juga bisa mencapainya.

Hargreaves juga menyarankan agar konsep olahraga diubah. Tidak perlu menghabiskan waktu satu jam untuk olahraga di tempat-tempat khusus. Cukup beberapa menit saja setiap hari dan bisa juga dengan, misalnya, mengerjakan pekerjaan rumah, seperti membersihkan rumah atau menyiangi taman. Itu saja sudah sangat baik untuk pikiran dan tubuh.

“Ini soal bergerak saja dan menemukan cara bergerak yang benar-benar menyenangkan. Dan ini bisa berbeda-beda untuk setiap orang,” ujarnya.

Menggabungkan olahraga dengan sesuatu yang diinginkan atau harus dilakukan bisa membantu seseorang mengabaikan bagian otak yang mengajak kita berbaring bersantai-santai saja di sofa.

 

Teropong

KOMPAS, SENIN, 5 FEBRUARI 2024

 

Minggu, 28 Januari 2024

Jangan Berlebih-lebihan

 

Jangan Berlebih-lebihan

Ahmad Mustofa Bisri

Kiai dan Penyair

 

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, sistem demokrasi yang sedang berlaku di negeri ini jelas perlu disyukuri.

Yang kurang dalam sistem ini, perlu terus disempurnakan. Praktik-praktik politik yang dianggap menyimpang, kurang etis atau menyalahi aturan, tentu perlu dikritik.

Sementara, yang sudah berjalan baik, perlu terus ditingkatkan. Kritik adalah pupuk bagi kemajuan sistem apa pun, termasuk sistem politik. Jika kritik dihambat, maka hilanglah kesempatan bagi sistem itu untuk memperbaiki diri sendiri.

Meski demikian, kita tidak boleh terjerembap dalam detail pohon, lalu lupa pada keluasan hutan. Kita tidak boleh lupa pada gambar besar, bahwa kita hidup di negeri yang relatif demokratis. Berkat demokrasi inilah kita dianugerahi nikmat yang luar biasa, yaitu pemilu yang dilangsungkan secara rutin setiap lima tahun.

Tujuan besar dan tujuan kecil

Dengan segala kekurangannya, jelas pemilu yang kita miliki saat ini jauh lebih baik dari segi kualitasnya dibandingkan dengan pemilu-pemilu lampau di zaman Orde Baru.

Kita tahu semua, fungsi pemilu pada saat itu hanya sebatas “stempel politik” saja bagi kekuasaan. Tak lebih, tak kurang. Jangan sampai pemilu kita hari ini terjatuh pada kesalahan serupa. Jangan sampai pemilu dimerosotkan kembali sebagai stempel saja.

Akan tetapi, di sisi lain, pemilu harap dilihat bukan semata-mata sebagai pemilu saja,, dilepaskan dari gambar besarnya.

Pemilu hanyalah wasilah atau sarana saja untuk meraih al-maqshad al-a’dzam alias tujuan besar: yaitu negara Indonesia yang bineka, melindungi semua, keadilan, dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

Ada bahkan mungkin banyak politisi yang terlibat dalam kompetisi politik, terkurung dalam tujuan-tujuan kecil untuk memenangkan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara, seraya melupakan gambar besar ini.

Bahasa pesantrennya: al-ghayah tubarrir al-wasa’il, tujuan menghalalkan segala cara. Ini adalah tindakan politik yang kerdil.

Tindakan politisi yang kerdil seperti ini, aneh bin ajaibnya, diikuti pula oleh sebagian para pendukung dan penyorak politik dengan cara memberikan dukungan yang kerdil pula.

Pentingnya sikap moderat

Dukungan kerdil itu tampak jelas dalam perilaku sebagian kalangan yang mendukung tokoh-tokoh tertentu secara berlebih-lebihan sehingga lupa pada gambar besar.

Dukungan yang berlebihan ini kemudian menimbulkan dampak-dampak yang kurang baik dalam hubungan-hubungan sosial. Dampak yang paling serius adalah anggapan bahwa kalau bukan calon saya yang menang, maka akan hancurlah negeri ini. Inilah sikap mutlak-mutlakan.

Hubungan-hubungan sosial bisa pecah karena sikap mutlak-mutlakan dan berlebih-lebihan semacam ini.

Indonesia sebagai rumah besar bisa rubuh dengan sikap mutlak-mutlakan seperti ini. Dari sono-nya, proses-proses politik itu memang cenderung “lunyu” atau licin. Setiap perubahan gampang terjadi di sana. Perubahannya tidak sekadar tahun, tapi bisa bulan bahkan hari.

Politik sifatnya dinamis. Apa yang terjadi hari ini belum tentu sama esok harinya. Mereka yang memberlakukan politik seperti barang padat yang “keset” akan mudah kewirangan (malu) dan kecelik (kecele).

Oleh karena itu, mereka yang mati-matian mendukung tokoh tertentu secara berlebihan akan gampang kecele di kemudian hari.

Konon, kata para ahli, politik adalah seni segala kemungkinan. Tetapi, sebagian para penyorak dan pendukung dalam kompetisi politik malah memperlakukannya sebagai sebuah seni sebuah kepastian.

Sikap moderat dan sak madya, karena itu, adalah sikap yang paling baik dan tepat. Sikap ini tepat bukan saja dalam konteks pemilu saja, melainkan untuk segala hal. Ini adalah kaidah sederhana yang telah diajarkan oleh para kaum bijak dari segala tradisi agama sejak dahulu kala.

Di tengah riuh-rendahnya kompetisi politik, kita tidak boleh lupa pada kaidah sederhana ini. Kita perlu bersikap moderat dan sedang-sedang saja dalam segala hal. Jangan sampai kita berlebih-lebihan.

Ketika mendukung sosok tertentu, sisakanlah ruang, walau hanya secuil saja, untuk sebuah keragu-raguan bahwa tokoh yang kita dukung ini jangan-jangan tidaklah seperti yang kita persangkakan selama ini. Keragu-raguan ini diperlukan untuk mengendalikan sikap yang berlebih-lebihan itu.

Yang patut terus diingat oleh semua pihak, politik pilpres hanyalah peristiwa rutin lima tahunan. Sementara urusan merawat Indonesia adalah kepentingan jangka panjang yang jauh lebih penting.

Jangan sampai peristiwa singkat ini dibesarkan melebihi proporsinya sehingga menenggelamkan tujuan jangka panjang itu. Inilah yang kewarasan dalam berpolitik. Kita perlu menjaga kewarasan ini secara bersama-sama, antara lain dengan menghindari sikap berlebih-lebihan dalam urusan kompetisi politik.

Godaan untuk tidak waras hari-hari ini memang sangatlah besar. Godaan ini ada pada kedua belah pihak sekaligus; pada pemain politik, dan juga pada penyorak politik. Masing-masing pihak mesti mengendalikan diri. Negeri ini akan bermasalah jika masing-masing pihak bertindak melebihi batas-batas kepantasan.

Para pendiri negara ini telah meninggalkan warisan penting bagi generasi sekarang, yaitu sikap-sikap politik yang selalu menempatkan kepentingan negara dan rakyat di atas segala-galanya. Inilah kebalikan dari kekerdilan politik yang kita lihat di sebagian kalangan hari-hari ini.

Generasi pendiri negara ini memang tidak mewariskan negeri dengan kelimpahan materi. Tetapi, mereka mewariskan sebuah sikap dan perilaku yang bersifat teladan. Warisan ini perlu terus dijaga agar kita tetap bisa waras sebagai bangsa.

 

RENUNGAN PEMILU

KOMPAS, MINGGU, 28 JANUARI 2024

Senin, 31 Juli 2023

Merdeka Belajar, Merdeka di Masa Depan

 

Merdeka Belajar, Merdeka di Masa Depan

Pekka Kaihilahti

Duta Besar Finlandia untuk Indonesia

 

            Di penghujung bulan Mei lalu, Finlandia memperoleh kehormatan untuk membawa delegasi pendidikan ke Indonesia.

            Dalam kunjungan ini, kami menyelami serangkaian pertukaran meruah makna, meliputi seminar forum pendidikan, kunjungan ke sekolah dan universitas, bertemu puluhan politeknik, serta diskusi dengan sederet pejabat direktorat jenderal di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

            Fokus utama pertukaran ini tentang elemen-elemen yang diperlukan dalam merangkai pendidikan yang tangguh dan siap menghadapi masa depan.

Kunjungan ini sangat penting karena Indonesia bertujuan menjadi ekonomi terbesar keempat pada tahun 2045 dan terbesar ketujuh pada tahun 2030. Untuk mencapai tujuan tersebut, penting untuk memberikan anak-anak dan pemuda keterampilan yang diperlukan untuk sukses di dunia yang terus berubah dengan cepat.

Di sebuah kesempatan lain, Presiden Joko Widodo menekankan bahwa keberhasilan di masa depan tidak ditentukan oleh kekayaan suatu negara, tetapi oleh kemampuannya untuk beradaptasi dan merespons tantangan sebagai negara yang cepat, melampaui negara yang lambat.

Dengan demikian, Presiden menyiratkan pentingnya membangun sistem pendidikan yang menumbuhkan pemikiran kritis dan semangat kreatif dalam belajar. Inti dari sistem pendidikan yang efektif berdentum pada kebahagiaan dalam belajar.

Ketika para siswa menemukan kegembiraan dalam perjalanan pendidikan mereka, hal itu akan membangkitkan rasa ingin tahu yang terus menyala sepanjang hidup mereka. Kemampuan untuk beradaptasi dan merespons tuntutan hanya akan dikembangkan melalui pembelajaran sepanjang hayat.

Inisiatif Merdeka Belajar di Indonesia patut diakui dalam konteks pendidikan yang siap menghadapi masa depan. Inisiatif ini memperkuat hubungan antara dunia akademik dan industri, menciptakan sektor pendidikan yang dinamis dan relevan. Dengan memeluk kolaborasi antara lembaga pendidikan dan industri, Indonesia aktif mempersiapkan siswa untuk memenuhi tuntutan masa depan dan memerdekakan mereka untuk memburu jalannya sendiri.

Demikian pula, Finlandia, sebuah negara kecil yang telah meretas reformasi sistem pendidikannya seabad silam, terus beradaptasi dan berkembang.

Lima Prinsip

Kami mengakui  bahwa potensi sejati Finlandia bersemayam pada rakyat Finlandia. Itulah sebabnya kami telah membangun sistem pendidikan yang didasarkan pada lima prinsip.

Prinsip pertama, kesetaraan, menjadi kekuatan penting di panggung pendidikan Finlandia. Setiap anak mendapat kesempatan yang sama, menerima pencerahan dan perhatian tanpa memandang asal-usulnya.

Prinsip kedua, memupuk kepercayaan, menjadi fondasi utama dalam sistem pendidikan kami. Guru-guru dipercaya oleh masyarakat dan rekan sejawat untuk menjalankan tugas mereka dengan kebijaksanaan, memberikan ruang otonomi dan melentingkan inovasi.

Prinsip ketiga, reformasi berkelanjutan, adalah komitmen yang terjaga dalam landasan pendidikan. Melalui pendekatan pedagogi yang berlandaskan penelitian, kami terus bergerak mengikuti jejak dunia yang teruh berubah.

Prinsip keempat, kebahagiaan, menjadi kunci dalam pendidikan yang efektif. Siswa yang bahagia akan menerima ilmu dengan penuh semangat, dan kami berjuang mencapai hasil gemilang tanpa mengorbankan kesejahteraan.

Terakhir, peran guru-guru yang berdedikasi menjadi sentral dalam penggung pendidikan. Guru-guru kami memiliki pemahaman yang mendalam tentang keunikan cara belajar individu-individu, menjadikan mereka pahlawan utama dalam arena pendidikan.

Kini, siswa-siswa Finlandia merupakan salah satu penampil terbaik dalam PISA. Di 2018, Finlandia berhasil meraih posisi ke-10. Tidak kalah penting, 5,2 persen siswa Finlandia usia 15 tahun menunjukkan kecakapan luar biasa dalam tiga domain penting, yaitu membaca, matematika, dan sains.

Kemitraan Finlandia-Indonesia

Finlandia ingin membangun kemitraan yang saling menguntungkan dengan Indonesia.

Finlandia mendukung berbagai inisiatif kerja sama pendidikan, seperti studi bersama, pengajaran digital, kolaborasi kurikulum, program mobilitas, dan kemitraan dengan industri.

Meningkatkan keunggulan SDM Indonesia melalui ekspertise Finlandia akan bermanfaat bagi pengembangan lanskap tenaga kerja global, dan juga pada akhirnya perusahaan dan masyarakat Finlandia.

Kami berharap bisa memperdalam kemitraan pendidikan dan bertukar praktik terbaik, baik dengan pemerintah, sektor swasta, maupun masyarakat sipil. Salah satu kolaborasi kami di Indonesia dapat dilihat dari pembukaan ITS 5G Experience Center di kampus ITS Surabaya pada 2021.

Nokia dan Universitas Oulu bekerja sama dengan ITS dan Indosat Ooredo. Tujuan dari Experience Center ini adalah melatih mahasiswa teknik serta menguji solusi-solusi teknologi 5G terbaru.

Selain itu, dalam kunjungan delegasi kami, kami mersa terhormat dapat bertemu dengan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Abdul Mu’ti. Muhammadiyah adalah organisasi Islam terkemuka dan berpengaruh di Indonesia yang dikenal karena dedikasinya di sektor pendidikan.

Prinsip-prinsip Muhammadiyah yang inklusif, toleran, dan harmonis beresonansi dengan baik dengan nilai-nilai kami, dan kami menganggapnya sebagai aset berharga bagi pembangunan Indonesia.

Terakhir, kami ingin kembali menegaskan dukungan kami terhadap inisiatif Merdeka Belajar. Inisiatif ini telah memikat delegasi kami, dan kami dengan antusias mengakui reformasi ini seirama dengan prinsip-prinsip kami.

Keberadaan dua memorandum saling pengertian (MSP) yang telah terjalin dengan pemerintah RI, yaitu MSP tentang Kerja Sama Bidang Pendidikan dan MSP mengenai Kerja Sama Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Inovasi, dan Pendidikan Tinggi, dapat berperan sebagai katalis dan fondasi yang diperlukan dalam mempererat kerja sama di antara kedua negara.

Mari kita bersama-sama menciptakan generasi muda masa depan dalam meraih kesuksesan, di mana kreativitas berkembang subur, dan di mana pengejaran akan ilmu menjadi perjalanan sepanjang hayat.

Jalan menjadi negara yang cepat mungkin tak mudah. Namun, dengan menginvestasikan pada pendidikan, kita bisa membuka jalan bagi masa depan lebih cerah. Mari kita sambut perjalanan bersama ini dan bangun kemerdekaan bagi generasi-generasi yang akan datang.

 

KOMPAS, SENIN, 31 JULI 2023

           

Minggu, 23 Juli 2023

Serba Maya… Semarak Kejahatan

 

ETALASE

Serba Maya… Semarak Kejahatan

 

Apa sih yang tak dipindah ke dunia maya saat ini? Dari undangan acara, laporan kartu kredit, sampai komunikasi antara pengelola dan penyewa gedung sekarang semua serba daring. Sebagian perlu demi efisiensi dan efektivitas, tetapi banyak pasal yang cukup luring dipaksa daring tanpa opsi menolak.

Saya kadang jengkel karena demi hal secuil dari pihak tertentu harus mengunduh aplikasi baru. Bahwa ponsel dipadati aplikasi yang cuma dipakai sekali adalah risiko yang tak dipedulikan oleh banyak institusi publik dan komersial yang gatal sekali go digital. Teknologi sebenarnya netral, penggunaannyalah yang bisa berujung berkah atau bencana. Kadang, malah kriminal. Dulu harus bertatap muka untuk mencurangi dan menipu, sekarang duduk manis di belakang layar sudah cukup.

Mari bicara ketidaknyamanan dulu. Semua orang mengeluh nomor ponsel bocor ke telemarketing dari institusi keuangan, agen properti, penjaja pernak-pernik, sampai yayasan pencari donasi-menghasilkan pesan tak henti walaupun sudah santun ditampik. Jual-beli nomor telepon zaman pra-internet konon dilakukan dari, salah satunya, menyisiri buku tamu acara yang dibuang setelah acara selesai.

Sekarang, semua pendaftaran dan aplikasi meminta nomor ponsel dan KTP untuk konfirmasi dan kita tak pernah tahu sejauh apa pemilik acara serta aplikasi menghormati privasi. Apalagi dengan teknologi digital, mudah sekali memindahkan data dengan sekali klik.

Saya pernah mencecar seorang wiraniaga bergaya konsultan dari PT B tentang sumber nomor saya, dia akhirnya mengaku membawanya dari kantor sebelumnya, PT A, yang tipenya serupa. Padahal, semua nomor PT A sudah saya blok, tetap data saya berpindah tangan.

Keresahan publik lain sempat terjadi karena pemberi pinjaman uang secara daring (pinjol) memasang pemindai atas daftar kontak di ponsel peminjam. Jika peminjam mangkir, pinjol “meneror” semua orang di daftar kontak. Pekerja lepas seperti saya harus bekerja dengan banyak pihak, sulit dihindari nomor saya dimiliki mereka. Namun, apa urusan saya kalau mereka mengutang, apalagi sampai ditelepon penagih utang dengan suara tinggi membentak? Malas ribut tetapi juga tak sudi dirundung, saya bentak balik dan ancam laporkan ke kepolisian sebelum akhirnya mereka mundur.

Bagaimana kalau ketidaknyamanan naik menjadi korban kejahatan?

Setahun lalu ramai sniffing oleh arsip berbuntuk .apk yang disebarkan melalui pesan teks. Jika diklik, maling digital menguras dompet elektronik dan aplikasi perbankan. Saya pernah ditelepon seseorang yang mengaku dari perusahaan ekspedisi dan memaksa membuka arsip yang ia kirim, konon foto dari paket untuk saya, tetapi gelagatan saat saya tantang mendatangi kantornya untuk mengecek isi paket.

Ternyata modus serupa sekarang memakai tombol lihat (view). Sintingnya, bukan saja aplikasi keuangan dikuras, pesan teks pun dibajak untuk menipu kontak terdaftar. Ada teman yang jadi korban dibajak ponselnya, ada juga teman yang jadi korban ditipu oleh nomor yang ia kira milik koleganya.

Mudahnya memindahkan berita di media sosial, termasuk berita duka, juga ternyata membuka peluang penipuan. Tak lama setelah ayah saya wafat, kami mendapat telepon berdalih pengurusan dana pensiun. Kami tak teperdaya, tetapi saya kaget setelah cek berita dan melihat adanya modus serupa banyak terjadi dan kemungkinan bersumber dari kabar duka.

Saya ingat kabar duka yang kami keluarkan memang menyebut nama kami sekeluarga, tanggal wafat ayah saya, dan nomor telepon anggota keluarga. Dengan info sesedikit itu penipu tak ragu menyasar orang yang masih berduka pilu.

Beragam kejahatan bergentayangan di media sosial, mulai dari aplikasi pertemanan sampai kencan. Documenter The Tinder Swindler membeberkan seorang pria Israel yang memakai aplikasi kencan untuk menipu perempuan seantero Eropa dengan berpura-pura dikejar musuh dan memerlukan uang demi menyelamatkan diri. Dalam plot yang lebih sederhana, tiada minggu di Twitter Indonesia tanpa kisah perempuan yang kena tipu lelaki, secara finansial atau seksual, dengan berbagai dalih memancing iba.

Ranah seperti Instagram, Twitter, dan Youtube, di mana jumlah “disukai” dan “diunggah” kembali bisa dimonetisasi sehingga melahirkan “profesi” influencer dan buzzer, marak penipuan terhadap orang yang ingin membeli pengikut palsu demi mendongkrak profil. Sekarang penipuannya menyasar orang yang seolah dipekerjakan menekan tombol like atau repost, tetapi diminta menunaikan biaya administrasi sebelum honor dilunasi.

Bahkan, aplikasi pembelanjaan daring pun, terlepas perangkat keamanan untuk pembayaran dan pengiriman, tetapi meninggalkan banyak celah. Fitur pembayaran di tempat (COD), misalnya; banyak pembeli yang merasa dikecewakan hasil pembelian, menyerang kurir yang cuma mengantar, atau pembeli yang identitasnya dicatut oknum dipaksa membayar baran yang tak pernah ia pesan. Ini baru e-commerce, belum kalau nanti social commerce, seerti yang dimungkinkan Tiktok, meluas.

Pencatutan nama dan alamat, yang sekarang dipermudah dengan seringnya tanda identitas diminta melalui e-mail, Whatsapp dan aplikasi sudah merugikan jauh dari sekadar pembelian tak sahih. Minggu ini saja, seorang pejabat kelurahan di Jakarta Utara tertangkap memakai identitas anak buah untuk meminjam uang, sementara seisi desa di Garut dicatut identitasnya untuk pinjaman bank.

Sebagai mantan staf bank, saya jujur kaget dengan kemudahan membuka rekening bank digital setelah saya sendiri sempat tertipu pembelian barang melalui rekening serupa. Bila dulu pembukaan rekening memerlukan tatap muka di cabang dengan calon nasabah yang membawa identitas, sekarang bisa via daring tanpa bank cek silang kebenaran identitas yang disampaikan. Entah sudah sedemikian tinggi target akuisisi nasabah baru, atau sebegitu membara semangat digitalisasi pelayanan, sampai tercipta rekening perbankan daring berdasarkan KTP palsu yang dipakai sebagai penampung penipuan. Pemasukan dan pengeluaran dana mulus bahkan tanpa oknum pernah menginjakkan kaki di kantor bank mana pun.

Kita belum bicara tentang data Peduli Lindungi, paspor, atau pelanggan jasa publik lainnya yang jelas-jelas sudah diretas dan dibanderol harganya oleh peretas professional.

Sederet kasus di atas hanya puncak gunung es persoalan dunia maya Indonesia. Kita sudah punya Menteri Komunikasi dan Informatika yang mempertanyakan guna internet cepat dan tersangkut kasus korupsi tiang seluler, satu pun tak mampu menyelesaikan masalah di atas. Pertanyaannya, menteri teranyar, akankah memecahkan gunung es dengan solusi efektif sebelum 2024?

 

LYNDA IBRAHIM, Konsultan Bisnis dan Penulis

KOMPAS, MINGGU, 23 JULI 2023

Sabtu, 14 Maret 2020

Soalnya Bukan Iman Lagi


Soalnya Bukan Iman Lagi

            Ketika naik kereta senja dari Jogja ke Jakarta, Anda membutuhkan kepercayaan bahwa kereta sungguh-sungguh berangkah ke Jakarta. Tidak ke Bandung atau Banyuwangi. Kereta itu harus menuju arah tertentu sehingga Anda memiliki kepercayaan bahwa ia ke Jakarta. Kereta itu juga harus membuktikan bahwa ia punya lokomotif sehingga Anda benar-benar percaya bahwa Anda akan dibawa pergi. Kalau tidak, Anda tak akan memercayainya. Dan, kalau Anda tak percaya, Anda tak akan bersedia mengeluarkan uang untuk membeli tiket.
            Akan tetapi, begitu tiba dan mengnjakkan kaki di Stasiun Gambir, Anda tak lagi memerlukan kepercayaan itu. Anda sudah tiba, di luar “percaya” atau “tak percaya”.
            Di Jakarta, Anda tak memerlukan kepercayaan untuk sampai di Jakarta. Jakarta sudah haq bagi Anda.
            Juga ketika Anda naik pesawat. Sesungguhnya Anda sedang menempuh perjalanan dari maqam di antara percaya dan tak percaya, menuju kondisi atau kedudukan di luar keduanya itu.
            Akan tetapi, perolehan kepercayaan dalam kasus pesawat jauh lebih mahal dibandingkan kereta. Sebab tingkat risiko jika apa yang dipercaya itu tidak terbukti – misalnya sang pesawat melorot ke lereng gunung – jauh lebih riskan dan bahaya.
            Akan tetapi, dengan pesawat Anda bisa lebih nyaman. Tingkat “kenikmatan” dan “gengsi”-nya juga lebih tinggi.
            Dengan kata lain, makin mahal harga kepercayaan, makin nikmat, tetapi juga penuh risiko. Makin mahal harga tiket kendaraan, makin spektakuler pencapaiannya sekaligus makin tinggi kemungkinan kecelakaannya.
            Kalau dunia diibaratkan sebagai “Stasiun Tugu” dan akhirat sebagai “Gambir”, kebiasaan kita membeli tiket kepercayaan semurah mungkin karena kita ingin risiko yang kita hadapi kalau bisa juga sekecil mungkin. Itulah sebabnya tradisi berpikir, tradisi mencari, tradisi ijtihad, tradisi kreatif dalam agama cenderung lemah. Kita dididik untuk menghindari risiko.
            Kita berumah tangga dengan kepercayaan bahwa istri kita dan suami kita menyeleweng. Kepercayaan itu mutlak karena kita tak bisa tiap detik membuntuti suami dan istri pergi ke kantor dan pasar. Namun, kelak ketika sudah sama-sama meninggal, yaitu tiba di puncak bukit bahwa kita tidak saling menyeleweng, kepercayaan itu tak diperlukan lagi.
            Demikian juga ketika mengerjakan segala kegiatan, membangun negara, bersekolah, berdagang, menarik becak, atau jualan kapur barus, kita memerlukan kepercayaan. Kalau kita tak percaya pada apa yang kita kerjakan, pada arah yang kita tuju, serta pada segala hal terkait dengan itu makan kita tak bahagia dan tak bertenaga untuk mengerjakannya.
            Landasan dari kepercayaan adalah bahwa kita belum tahu, tetapi kita percaya. Kalau sudah tahu, kita tak butuh percaya atau tak percaya. Kalau Anda melepas suami tugas di luar kota karena Anda tak tahu kemungkinan apa yang bisa dihasilkan suami Anda maka satu-satunya yang harus kita “beli” adalah kepercayaan.
            Demikian pun iman dalam beragama.
“Iman adalah daya hidup selama Anda menempuh perjalanan.”
Iman adalah sandaran Anda di tengah ketidaktahuan atau kebelumtahuan atas suatu hal yang kita tuju. Namun, kalau Anda sudah sampai di “Jakarta”, kalau “Jakarta” sudah menjadi al-Haq bagi Anda maka yang Anda perlukan bukan lagi iman…
            Itu paralel dengan taqarrub alias pendekatan yang dibutuhkan dan dikerjakan oleh orang yang masih jauh….[]

Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dalam bukunya: “Tidak. Jibril Tidak Pensiun!”